Home Coretan Pena
Lilypie 1st Birthday PicLilypie 1st Birthday Ticker
Tausiyah hari ini


"...maka Dialah sebaik baik penolong dan sebaik baik pelindung[ QS Al Hajj 22 : 78 ]"

Ta'aruf dulu donk
Sekedar coretan hati, melukiskan keajaiban di alam sekitar termasuk dalam kehidupan sehari hari

Artikel Sebelumnya
Say Hello
Istri Hamil, Suami Ngidam ????
Sekilat Lebaran
Menjelang Lebaran 1426H
Ke RS
Ramadhan 1426 H
Sekelumit Cerita Waktu Mudik
Alhamdulillah
40.4 mm
Keutamaan Orang yang Tabah dalam Menghadapi Kemati...

Assalamu'alaikum




 
Sahabat
Aan
Abu Iffah
Abu Rasyidin
Achdaf
Achedy
Adi Onggo
Affan
Agus H
Agung Rohmat
Agung Yuniardi
Aisyah
Akhdian
Al Biru
Andips
Andri
Annisa
Anny
Ardin
Arida
Arida_bi
Arifiani
Ars
Arul
Asty
Bayu G
Bhowo
Bina I
B Surya
B Shafiya
Chad-drafter
Chandra
Dany
Darti
Denny
Dekretno
Desy
DH Devita
Dian
Diana
Dina
Dino
Durre
Edy Pur
Elah
Elsa E
Emil
Feli
Firman
Fitri
FKMC
Fuad
Gina
Ginanjar
Gitafh
Hanum
Hasan
Hendra
Hilal
Ide
ietja
Iko
Ima
Ipunk
Ivan's
Ietja
Ira N
Jonru
Kasmawati
Khalily
Koko
Linda
Lucky
Made
Malik
M Azhar
Merahsenjakala
Muhandis
Mpit
Mustoyo
Nining
Nimas P
Novid Z
Nuri
Olieds
Ozzan
Pray
Puji
Putri
Rahma
Rahman
R Ihsan
Renny
Rieska
Roel
Ronny H
Ryu
Selo Widono
Septina
Shinta
Sohibi
Syamsudin
Tajdid
Tary
Thohar
Tiza
Tomy
Tuti
Tyo
Ulee
Umi
Ummu Syifa
Ummu Thoriq
Unisa
Vavai
Vera
Verry
V Iskandar
Vita
Wawan
Yuami
Yayan
Yentri
Yudith F
Yusi
Zein
Memoriam
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
July 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
October 2005
November 2005
January 2006


 
Anggota dari



Powered By
 
 
Alhamdulillah
Thursday, July 21, 2005 [10:47 AM]
Subhanallah...Alhamdulillah...Allahu Akbar. Hari ini kembali aku diperlihatkan akan kebesaran Allah swt yang memberi kami nikmat tiada putusnya.

Baru beberapa hari kemaren, baru ketahuan bahwa beberapa bulan lagi [insyaallah] kami akan mempunyai jundi, hari ini ditambah lagi sebuah berita menggembirakan. Suami memberi tahu bahwa ia lxxxxs dan pelaksanaan dxxxxs di kantornya di undur tengah agustus, sehingga kami yang tadinya khawatir bertabrakan dengan hari walimah di jawa [ Walimah yang ke 2. Walimah lagi ? he..he..], alhamdulillah kekhawatiran yang sempat melanda kami ber2 dan keluarga besar kami akhirnya hilang. Semoga ke 2 acara tiada halangan lagi. Allahumma amiin.

Dan yang lebih membuat aku kaget lagi...tak lama kemudian bos IMB ngasih selamat[he..he.. pa Arul makasih ya]. Sempat kaget juga , selamat apaan? karena aku coba buka web muslimblog, lama banget baru kebuka. Ternyata jadi pemenang entry bulan Juni[he..he.. baru kali ini merasakan jd pemenang entry :D. Soalnya kl menilai tulisan sendiri secara pribadi , kayaknya belum bisa menulis bagus, namanya juga masih belajar he..he.. ]. Semoga dengan ini bisa lebih memacu untuk rajin2 menulis. Ya ga pak ? ^_^



Ingatlah ketika Rabb-mu memberitahukan, jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambah (nikmatKu) bagi kalian, dan jika kalian ingkar sesungguhnya adzabKu amatlah pedih. (QS Ibrahim:7)

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah :152).



"Tuhan... dosaku mengunung tinggi...
Namun rahmatMu... melangit luas...
Harga selautan syukurku... Hanyalah setitis...
NikmatMu dibumi..."

Link
posted by ummusahl || [0] comments
40.4 mm
Tuesday, July 19, 2005 [8:03 AM]


Beberapa hari dan minggu belakangan ini kita ber2 diliputi keragu raguan. Alhamdulillah kemaren akhirnya terjawab sudah keragu raguan yang selama ini menyelimuti.

Begitu alat USG mulai dioperasikan, aku tercengang tak percaya. Subhanallah, ternyata di layar terpampang sesosok janin yang mulai terbentuk, tangannya pun dah kelihatan. Dan tingginya pun sudah 40.4 mm, usianya sudah 11 minggu. Sampai sampai aku sendiri tidak percaya memelototi layar monitor . Suami yang kebetulan tidak bisa nganter, malemnya waktu kuceritain sempat tidak percaya juga ^_^ . Subhanallah... Alhamdulillah..Allahu Akbar



Robbi habli minasholihin...allahumma amiin

Link
posted by ummusahl || [0] comments
Keutamaan Orang yang Tabah dalam Menghadapi Kematian Anaknya
Monday, July 18, 2005 [11:49 AM]
Ketika seorang muslim mencapai taraf iman dan keyakinan yang tinggi, mempercayai ketentuan takdir , baik dan buruknya itu adalah dari Allah SWT, maka akan tampak kecil segala peristiwa dan musibah yang menimpa dirinya.

Rasulullah SAW memberitahukan bahwa siapapun yang ditinggal mati anaknya, kemudian bersabar dan mengucapkan :

"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan sesunggunya kepadaNyalah kami akan kembali " [ QS. Al Baqoroh{2} :156 ]
Maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah yang diberi nama Baitul Hamdi(Rumah Pujian)

Dari Abu Musa Al Asy'ari r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"Apabila anak seorang hamba telah mati , maka Allah SWT berfirman kepada para malaikatNya, 'Apakah kalian telah mematikan anak hambaKu?'. Mereka menjawab, 'Ya'. Dia berfirman, 'Apakah kalian telah mematikan buah hatinya?'. Mereka menjawab, 'Ya'. Dia berfirman, 'Apa yang diucapkan hambaKu?'. Mereka menjawab, 'Ia telah memujiMu dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilahi raji'un(sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah SWT dan sesungguhnya kepadaNya lah kami akan kembali)'. Maka dia berfirman, 'Bangunlah sebuah rumah di surga untuk hambaKu dan namakan Baitul Hamdi' " [ HR. Tirmidzi ]

Dari Abu Sa'id AL Khudri r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada kaum wanita :
"Tidak ada seorang wanita pun di antara kamu sekalian yang kematian tiga orang anaknya, kecuali anak anaknya itu akan menjadi pelindung baginya dari api neraka. Seorang wanita bertanya 'Dan dua orang anak ?'. Rasulullah SAW menjawab, 'Dan dua orang anak' " [ HR. Bukhari & HR. Muslim ]

Dari Jabir r.a : aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
"Siapa yang kematian tiga orang anaknya, namun ia rela, maka ia akan masuk surga. (Jabir berkata). Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah, bagaiman dengan dua orang anak?'. Beliau menjawab, 'Dan dua orang anak ' " [ Ahmad & Ibnu Hibban]
Seorang perawi berkata kepada jabir, "aku berpendapat, bahwa sekiranya engkau berkata satu, niscaya beliau akan mengatakan satu juga ". Jabir berkata, "aku kira demikian ".

Dari Habibah bahwa ketika ia dekat Aisyah r.a lalu Nabi Saw datang menghampirinya , beliau bersabda :
"Tidak ada di antara dua orang muslim yang kematian tiga orang anaknya yang belum mencapai masa balig, kecuali pada hari kiamat nanti anak anak mereka itu akan didatangkan kembali. Hingga ketika mereka berhenti di depan pintu syurga, mereka diperintahkan, 'Masuklah kalian ke dalam syurga'. Mereka berkata , ( kami tidak akan masuk ) hingga bapak bapak kami masuk '. Maka dikatakan kepada mereka, 'Masuklah kedalam syurga kamu bersama dengan bapak bapak kalian' " [ HR. Tabrani ]

Dari Abu Hasan :
"Aku telah ditinggal mati dua orang anakku. Kemudian aku bertanya kepada Abu Hurairah r.a, 'Apakah engkau pernah mendengar sebuah hadist dari Rasulullah Saw yang akan engkau ucapkan kepada kami dan yang akan menyenangkan jiwa kami atas kematian dua anak kami itu?'. Abu hurairah menjawab, 'Ya'.
'( Yaitu ) anak anak kecil mereka tidak akan berpisah dengan surga. Salah seorang di antara mereka akan menggiring kedua kedua orang tuanya. Ia akan menuntunnya dengan sudut bajunya atau tangannya, sebagaimana aku memegang bajumu ini. Ia tidak akan meninggalkannya hingga Allah memasukkannya dan dirinya ke dalam surga' ".


Salah satu hal yang bisa dicontoh adalah kisah ketabahan Ummu Sulaim, seperti diriwayatkan HR Bukhari dan HR. Muslim :

Diceritakan bahwa anak Thalhah merintih sakit, sedangkan Abu Thalhah keluar rumah. Kemudian anak itu meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya, 'Bagaimana keadaan anakku?'. Ummu Sulaim menjawab, 'Ia tenang seperti sedia kala( yg dimaksud adalah mati, sedangkan Abu Thalhah mengira bahwa anaknya dlm keadaan sehat )'. Kemudian Ummu Sulaim menyediakan makan malam untuk Abu Thalhah. Setelah itu ia berhias diri, lebih cantik daripada biasanya, hingga Abu Thalhah menggaulinya. Setelah ia melihat bahwa suaminya sudah melepaskan rindunya dan merasa puas, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, 'Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu, jika suatu kaum meminjamkan suatu pinjaman, apakah yang meminjam itu berhak menolak mereka jika memintanya kembali?. Abu Thalhah menjawab, 'Tentu saja tidak'. Kemudian Ummu Sulaim berkata, Demikian pula dengan anakmu. Anakmu telah mati, maka mintalah pahala dari Allah Swt. . Abu Thalhah berkata sambil marah, 'Engkau telah membiarkan aku, hingga setelah berjunub karena bergaul denganmu, engkau beritahukan tentang anakku'. Kemudian ia pergi mendatangi Rasulullah Saw untuk memberitahukan apa yang terjadi. Rasulullah Saw membenarkan apa yang telah dikerjakan Ummu Sulaim, lalu bersabda: 'Barokallahu lailatakuma ( semoga Allah memberkahi malam kalian berdua )'

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa beliau bersabda :
" Allahumma bariklahuma ( Ya Allah, berilah berkah kepada mereka berdua ) "

Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah oleh Nabi Saw. dan salah seorang di antara kaum Anshar berkata, "kemudian aku melihat tujuh orang anak, semuanya pandai membaca Al Qur’an, yakni anak anak dari Abdullah. Semua itu tidak lain karena dikabulkannya doa Rasulullah Saw ketika beliau berdoa, 'Ya Allah berikanlah berkah kepada mereka berdua' ".

"Ya Allah , ringankanlah kami menanggung beban musibah dunia. Berikanlah kami sifat rida atas qada dan QadarMu. Pimpinlah kami di dunia dan akhirat, karena hanya engkaulah sebaik baik pemimpin, wahai Tuhan Seru sekalian alam ".


[taken from : Pendidikan Anak Dalam Islam, Dr. Abdullah Nashih Ulwan]


Teruntuk : Adelia Raisya Nagari, semoga engkau menjadi penghalang api neraka bagi kedua orang tuamu

Link
posted by ummusahl || [0] comments
CINTA LAKI LAKI BIASA
Thursday, July 14, 2005 [10:51 AM]


Cinta Laki-laki Biasa

Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa



MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia
mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari
yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata
miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,kakak-kakak, tetangga,
dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan
lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang
barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya
menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil
dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian
di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang
pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli
untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang
sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa
dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponak an Nania yang
balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli
berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda
baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami . Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat
biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat
pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.
Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar
biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di
sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik
di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya ,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak
di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau
cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu
sangat
bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

ada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan
tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka
memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari
cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, r umah Nania besar, anak-anak pintar
dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di
puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan
kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu
dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam
rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan
itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam
hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit.
Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa ti dak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwa rna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Na nia terkadang ikut menunggui Nania di
rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.
Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania
dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,
dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Qur'an
kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda
mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,
mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan
membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak
bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil
memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.
Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu
tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan
paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan
senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Ora ng-orang
di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang
lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut
takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Link
posted by ummusahl || [0] comments
ENAKNYA PACARAN SETELAH MENIKAH
Wednesday, July 13, 2005 [2:46 PM]


wah ngomongin pacaran ni ye
Eit..untuk yang satu ini jangan disamakan dengana pacaran biasa. Kenapa pasal? yang jelas yang satu ini udah syah hukumnya, jadi boleh boleh aja mau ngapain juga.

Pacaran setelah menikah ? hmm tentu beda rasanya bila dibandingkan dengan pacaran dulu baru menikah. kenapa ? karena setelah menikah kita baru mengetahui dan mengenal lebih dalam tentang suami/istri kita dan yang jelas masih ada perasaan malu malu , senang, sungkan dan sebagainya ketika kita baru pertama kali mengenal suami/istri setelah aqad nikah.

Sedangkan kl kita pacaran lebih dulu, mungkin kita memang sudah banyak mengenal calon kita , tp ketika menikah, bukan jaminan rumah tangganya akan langgeng. Ada beberapa teman2 senior saya yang sudah 10 tahun pacaran dan kemudian menikah, tapi kehidupan rumah tangganya tka berjalan mulus, dalam hitungan ga sampai sepuluh tahun menikah, mereka bercerai.Padahal 10 tahun bukan waktu yg sedikit buat mengenal calon pasangan sebelum menikah.Begitu juga beberapa teman yang sebelum menikah , berpacaran hingga bertahun tahun, namun kehidupan rumah tangganya ga berjalan mulus.
Tetapi sebaliknya beberapa orang yang tidak mengenal pacaran , rumah tangganya baik baik saja, bahkan harmonis. Saya tidak men-judge bahwa yang pacaran lama sebelum menikah, kehidupan rumah tangganya akan berakhir tidak bahagia...tidak sama sekali tidak. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa kehidupan rumah tangga akan harmonis apabila saling ada komitment bersama dan tetep menjaga komitment yang telah terucap.

Cobalah tanyakan pada mereka yang sebelum menikah tidak melalui proses pacaran. Subhanallah banyak cerita cerita seru yang seringkali saya dengar mulut2 sahabat saya. Jadi inget waktu pertama kenal suami. Saya dan suami bener2 baru kenal. Dari tuker biodata sampe aqad jarak waktunya sekitar 1,5 bulan. Kok bisa secepat itu? saya sendiri juga sempat heran dan kaget setelah menghitung2 hari. Ternyata cepat juga yah. Tapi entahlah saat itu saya begitu yakin bahwa dia adalah hadiah dari Allah swt, orang yang terbaik bagi saya, yang akan mendampingi saya. Keyakinan itu tidak ada sewaktu saya bertaaruf dengan ikhwan lainnya.

Bagaimana dengan mimpi ? katanya orang yang akan menjadi jodoh kita akan kita impikan . Tentang hal ini, wallahu 'alam bishowab. Tapi ada banyak sahabat2 saya yang mengalaminya, begitu juga kakak saya. Namun begitu hal itu menurut saya tidak menjadi patokan . Pasti anda bertanya, bagaimana dengan ane pribadi ? hmm itu rahasia he..he..(* jadi inget kl suami ditanya hal begini, apakah ia pernah mimpiin ane sebelum menikah dulu, pasti dia hanya tersenyum malu malu dan berusaha mengalihkan pembicaraan :D )

eh kok ngomongnya jadi jauh begini he..he..
Eh iya apa enaknya pacaran setelah menikah ? banyak banget.
Kita boleh ngapa-ngapain karena udah syah dan udah halal :D
Ada kangen yang melanda ketika sehari tak bertemu, jangankan sehari mungkin sejam aja udah nyariin he..he..
Mo romantis romantisan di mana aja syoklah
Tapi ada satu hal yang harus diinget, bahwa menikah bukan romantisme smata, ada tanggungjawab yang berbeda disana :)



Nb: kita suka senyum bareng saat inget waktu abis aqad nikah, dimana kita masih malu malu dan hanya curi curi pandang, dan ketika dua pasang mata bertemu, muka bersemu merah , tersenyum lalu mengalihkan pandangan, karena malu tertangkap basah :D

Link
posted by ummusahl || [0] comments
PERNIKAHAN
Tuesday, July 12, 2005 [4:40 PM]


Mungkin agak telat ngomongin pernikahan, tapi tidak apa apa, mudah2an bermanfaat bagi yang belum menikah maupun yang sudah menikah. amiin.

Pernikahan dari sudut pandang agama memiliki beberapa aspek :
A. PERKAWINAN SEBAGAI FITRAH INSANI
Hadits dari Sa'ad bin Abi Waqash r.a :"Sesungguhnya Allah telah menggantikan pola hidup kerahiban kita dengan ajaran agama yang lurus dan mudah"[ Baihaqi ]

"Siapa saja yang mampu untuk menikah, namun ia tidak menikah, maka tidaklah ia termasuk golonganku"[ Tabrani&Baihaqi ]

"(Tetaplah atas)fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"[ QS. Ar Rum :30 ]

"Tiga kaum pernah mendatangi rumah istri2 Nabi SAW untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika mereka diberitahukannya, maka seakan akan mereka mendapatkan ibadah mereka itu sedikit. Mereke bertanya 'Dimana kedudukan kami di sisi Nabi SAW, mengingat beliau telah diampuni dosa dosanya yang telah lau dan yang akan datang?' Salah seorang diantara mereka berkata, 'Saya akan selalu melakukan solat malam'. yang lain berkata, 'Saya akan selalu berpuasa dan tidak akan pernah berbuka'. Dan yang lainnya berkata, ''Saya akan selalu menjauhi kaum wanita dan tidak akan pernah kawin selamanya. kemudian datanglah Rasulullah SAW dan bersabda 'Kaliankah yang mengatakan begini dan begitu itu ? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian, dan lebih bertakwa kepadaNya daripada kalian. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku melakukan salat dan aku tidur, dan aku mengawini kaum wanita. Oleh karena itu barangsiapa yang tidak suka kepada sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku'"[ Bukhari & Muslim ]

B. PERKAWINAN SEBAGAI KEMASLAHATAN SOSIAL

1. Melindungi kelangsungan species manusia

"Allah jadikan bagi kamu istri2 dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri2 kamu itu, anak2 dan cucu" [ QS. An Nahl:72 ]

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki2 dan wanita yang banyak" [ QS. An Nisa:1 ]

2. Melindungi Keturunan

Dengan pernikaha, anak anak akan bangga dengan pertalian nasab kepada ayah mereka sehingga terdapat penghargaan, kestabilan jiwa dan penghormatan thd nilai2 kemanusiaan mereka.

3. Melindungi masyarakat dari dekadensi moral

"Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian sudah mampu kawin, maka kawinlah. Sebab, perkawinan itu akan dapat lebih memelihara pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan siapa saja yang belum mampu untuk kawin, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya berpuasa itu dapat menekan hawa nafsu" [ HR. Jama'ah ]

4. Melindungi masyarakat dari penyakit.

Dengan pernikahan , masyarakat akan terhindar dari penyakit akibat perzinahan dan selamat dari perbuatan keji serta hubungna bebas secara haram. Diantaraya : penyakit sypilis, AIDS, kencing nanah dan penyakit berbahaya lain yg membunuh keturunan, melemahkan fisik, meyebarkan wabah dan menghancurkan kesehatan anak2.

5. Menumbuhkan ketentraman Rohani dan Jiwa

"Dan diatara tanda2 kekuasaanNya ialah , Dia menciptakan untukmu istri2 dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung tentram kepadanya, dan dijadikanNya diatara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yag demikian itu benar2 terdapat tanda2 bagi kaum yang berfikir" [ QS Ar Rum:21 ]

6. Kerjasama suami istri dalam membina Rumah tangga dan mendidik anak.
7. Menumbuhkembangkan rasa kebapakan dan keibuan


"Tidak ada sesuatu yg berguna bagi seorang muslim setelah takwa kepada Allah yang lebih baik baginya daripada seorang istri salehah yang apabila suami memerintahkannya, ia mematuhinya, apabila suami memandangnya, maka ia menyenangkannya, apabila suami menggilirnya, maka ia mematuhinya, dan apabila suami bepergian darinya, maka ia memelihara diri dan harta{suami}nya" [ HR. Ibnu Majah ]

"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita yang salehah" [ HR. Muslim ]

C. PERKAWINAN SELEKTIF dan BERDASARKAN PILIHAN.

1. Memilih berdasarkan agama

"Sesungguhnya Allah tidak menilai bentuk dan badan kamu, tetapi Dia menilai hati dan perbuatan kamu" [ HR.Muslim ]

"Wanita itu dinikahi karena empat pertimabangan, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Dapatkanlah wanita yang memiliki agama, niscaya kedua tanganmu akan penuh dengan debu{1}" [ HR. Bukhari & HR. Muslim ] -- 1. menyatakan anjuran dan doa semoga mendapatkan banyak harta. jd arti kalimat itu menjadi 'dapatkanlah wanita yang beragama(islam) dan janganlah berpaling kepada harta atau yang lain'

Dari Anas R.a bahwa Nabi SAW bersabda : "Siapa saja yang mengawini seorang wanita karena kemuliaannya, maka Allah tidak akan menambahkannya kepadanya melainkan kehinaan. Siapa yang mengawininya karena hartanya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain daripada kemiskinan. Siapa saja mengawininya karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain dari pada kerendahan. Dan siapa yang mngawini seorang wanita hanya karena ia menginginkan agar dap[at menjaga panaangannya, memelihara kemaluannya atau menyambung ikatan kekeluargannya, maka Allah akan memberkati orang tersebut pada wanita itu dan akan memberkati wanita itu padanya" [ Tabrani, dlm kitab Al Ausath ]

"Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang agama dan akhlaknya kamu ridahi, maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya, maka akan menjadi fitnah di muka bumi dan tersebarlah kerusakan" [ HR. Tirmidzi ]

2. Memilih berdasarkan keturunan dan kemuliaan

Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah bersabda : "Manusia itu laksana logam dalam kebaikan dan keburukan. Orang2 yang baik dari mereka dalam jaman jahiliyah adalah sebaik mereka dalam jaman islam, apabila mereka memahami" [ Thayalisi, Ibnu Mani' & Al Askari ]

Dari Abu Sa'id Al Khudri , dari Rasulullah : "Jauhilah oleh kalian rumput hijau yang berada di tempat kotor. Mereka bertanya'Apakah yang dimaksud dengna rumput hijau yang berada di tempat kotor , wahai rasulullah?'. Belia menjawab, 'Yaitu wanita yang sangat cantik, yang tumbuh(berkembang) di tempat yang tidak baik'" [ Daruquthni, L Askari & Ibnu 'Adi ]

Dari Aisya r.a : "Seleksilah untuk air mani(calon istri) kamu sekalian dan kawinilah oleh kamu sekalian orang2 yang sama derakatnya" [ Ibnu Majah, Daruquthni dan Hakim ]

Dari rasulullah : "Seleksilah untuk air mani(istri) kamu sekalian. karena sesungguhnya keturunan itu kuat pengaruhnya" [ Ibnu Majah & Ad Dailani ]

3. Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam pernikahan.

"Janganlah kalian menikahi kaum kerabat, sebab akan dapat menurunkan anak yang lemah jasmani dan bodoh" [atsar dari Umar bin Khathab ]

"Carilah untuk kalian wanita2 yang jauh, dan janganlah mencari wanita2 dekat(yang lemah badannya dan lemah otaknya)" [ atsar Umar bin Khathab ]

4. lebih mengutamakn wanita yang masih gadis

Dari Aisyah r.a : "Wahai Rasulullah, bagaiman pendapatmu jika engkau turun pada suatu lembah yang didalamnya terdapat sebatang pohon yang telah dimakan sebagian daripadanya dan sebatang pohon lain yang belum dimakan daripadanya. Dimana engkau akan menggembalakan untamu?. Rasulullah SAW menjawab'pada sebatang pohon yang belum pernah digembalakan daripadanya'. Aisyah r.a berkata, 'maka aku ini adalah pohon (yang masih utuh dan belum digembalakan daripadanya)itu' " [ HR. Bukhari ]

Dari Rasulullah SAW : "kawinlah oleh kamu sekalian gadis2. Sebab, mereka itu lebih manis pembicaraannya, lebih banyak melahirkan anak, lebih sedikit tuntutan dan tipuan, serta lebih menyukai kemudahan" [ HR. Ibnu Majah & Al Baihaqi ]

"Rasulullah bertanya pada Jabir ketika ia kembali dari perang Dzatur Riqa'. 'Hai Jabir, apakah engkau telah kawin?'. Jabir menjawab. 'Benar wahai Rasulullah'. Beliau juga bertanya,'Janda apa gadis?'. Jabir mengaku, 'Janda'.Tanyanya lagi, 'Mengapa bukan seorang hamba(jariyah) saja yang dapat kau permainkan dan dia mempermainkan engkai?'. Jabir berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku tertawan waktu perang Uhud dan mewariskan tujuh wanita bagi kami. Maka saya kawini satu orang yang mencakup keseluruhannya(serba bisa) mewakili mereka dan bertanggung jawab atas mereka'. beliau bersabda, 'insyaallah engkau benar'" [ HR. Bukhari & HR. Muslim ]

5. Mengutamakan perkawinan dengan wanita subur.

Rasulullah bersabda : "Kawinilah olehmu sekalian wanita2 subur yang banyak melahirkan anak dan penuh kecintaan. Karena sesungguhnya aku ingin memperbanyak umat dengan kamu sekalian" [ HR. Abu Dawud, Nasai & Al Hakim ]

Link
posted by ummusahl || [0] comments